Selasa, 19 Agustus 2014

Semantik (arti, makna, denotasi, dan proposisi)






A.    Arti (Meaning) dan Makna (Sense)
Selama ini kita tentunya sudah tahu tentang dua istilah arti dan makna. Umumnya orang menanggap bahwa arti dan makna itu adalah sama. Menurut Edi Subroto pada bukunya ‘Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik’ tidak  demikian karena kedua istilah itu mengandung pengertian yang berbeda. Dalam hal ini Subroto meyebut arti dengan meaning dan makna dengan sense. Subroto (2002:110) mengemukakan arti lingual atau arti linguistik, yaitu arti yang terdapat di di dalam bahasa, yang terstrukturkan oleh dan di dalam bahasa, dipahami secara lebih kurang sama oleh pengguna bahasa, dipakai secara umum dan wajar dalam suatu masyarakat bahasa, dipakai secara umum dan wajar dalam proses berkomunikasi sehari hari.

Arti bersifat dasar dan ancar-ancar, belum tentu (spesifik). Arti itu bersifat spesifik manakala dipakai untuk proses penunjukan (reference) dalam situasi pemakaian tertentu. Contohnya pada kata meja, kata tersebut memiliki fitur-fitur koseptual yang berbeda. Dalam hal ini arti kata meja masih sebatas memiliki jumlah kaki empat, tempat meletakkan barang, berbentuk segiempat dan lain sebagainya. Arti meja masih sebatas wujud konkretnya saja, tetapi secara bersama dapat disimbolkan dengan unit leksikal meja.

Dalam arti terdiri dari dua bagian yakni, arti leksikal dan arti struktural atau gramatikal. Arti leksikal adalah arti yang masih bersifat dasar dan mandiri, maksudnya terlepas dari unsur-unsur dari konteksnya. Biasanya arti leksikal ini dibuat untuk penyusunan kamus. Contohnya, pada kata meja, sapu, dan kursi. Bebeda dengan arti gramatikal atau struktural, unsur-unsur bahasa pada arti gramatikal dalam satuan yang lebih besar, misalnya hubungan antara kata dengan kata yang lain dalam frasa atau kalimat. Contohnya, pada kata baju baru.

Berbeda dengan arti, Makna yaitu arti sebuah butir leksikal atau sebuah tuturan kalimat berdasarkan konteks pemakaian, situasi yang melatarinya dan intonasinya (Subroto, 2002:113). Ujaran manusia itu mengandung makna yang utuh, karena makna yang diujarkan sudah mengandung proses penunjukan (reference). Dalam makna pasti sudah tergantung konteks pemakaian suatu kata.

Makna bersifat tertentu karena dirambu-rambui oleh struktur, konteks pemakaian, intonasi, dan latar yang melingkupinya. Hal ini dapat dicontohkan pada kata sepatu, ketika kata “sepatu” mendapat tambahan kata “sepatu itu baru”, dalam hali ini kata sepatu tidak hanya memiliki makna alas kaki saja namun sudah memiliki makna lain yang mengikutinya. Kata baru yang mengikuti kata sepatu adalah sebagai penunjuk (reference), tanpa adanya kata baru maka kata sepatu hanya sebatas memiliki arti sebagai alas kaki saja.

Menurut pendapat ahli yang lain, Abdul Chaer (2009:29) tidak membedakan antara arti dengan makna. Ia mengemukakan setiap tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsure makna. Kedua unsure ini adalah unsure dalam bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar bahasa (ekstralingual). Jadi antara unsur bunyi dan makna saling keterkaitan. Dalam hal ini dapat dicontohkan, ketika mengucapkan kata “kursi” maka terdiri dari unsure makna yang diartikan kursi dan unsure bunyi yang mengartikan dalam wujud fonem.

B.     Denotasi  atau Designasi dan Referensi
Makna atau sense dan arti erat hubungannya dengan denotasi atau konotasi dan referensi. Untuk sementara para ahli linguitik berpendapat bahwa denotasi ada designasi mempunyai pemahaman yang sama, sehingga tidak dibedakan atara istilah designasi dan denotasi. Berbeda dengan denotasi/ designasi, refensi mempunyai ihwal yang berbeda sehingga refernsi akan dibedakan dengan denotasi/ designasi.
Denotasi adalah bagian dari arti yang ditentukan oleh sistem bahasa, tidak bergantung pada situasi yang khas dari sebuah tuturan (Subroto, 2002:114). Konsep denotasi adalah mengacu atau tertuju hanya pada golongan entiti atau suatu hal yang sungguh ada dan sama dari dunia eksternal. “ that the denotation of an expression is invariant utterence independent it is part of the meaning which the expression has in the language system independently of its use on particular occasions of utterance” (Lyons dalam Subroto, 2002:144). Dari pendapat lyons tersebut diartikan sebagai berikut: bahwa denotasi dari sebuah ekspresi ujaran invarian independen merupakan  bagian dari makna yang berekspresi dan memiliki sistem bahasa secara independen dari penggunaannya pada kesempatan tertentu dari sebuah ucapan. Jadi pada intinya lyons berpendapat bahwa  denotasi dari suatu ekspresi itu bersifat invarian dan tidak bergantung pada tuturan.
Denotosi atau designasi ini merupakan bagaian dari arti yang ditentukan oleh sistem bahasa dan tidak bergantung pada situasi yang khusus atau khas  dari sebuah tuturan, jadi denotasi atau designasi ini bersifat pandangan secara umum dan tidak spesifik. Ladislav Zgusta (1971) dalam bukunya Manual of Lexicography, menjelaskan tiga istilah yang terkait, yakni designasi atau  denotasi, konotasi, dan lingkungan pemakaian. Designasi atau  denotasi membentuk makna dasar. Kompoen ini mencakupi tiga unsur utama, yakni:
(1) leksem, sebagai wujud ekspresi yang berupa lambang bunyi, disebut juga penanda (signifiant);
(2) designatum, sebagai pengertian atau konsep benda yang dilambangkan  tadi, disebut juga petanda (signifie); dan
(3) denotatum.  sebagai acuan atau hal-hal yang langsung mengenai bendanya, objek yang diacu, berada di luar bahasa.

Pembahasan berikutnya terkait designasi atau denotasi adalah refensi. Konsep refensi disini hampir sama halnya dengan reference pada segitiga semantik (Richards dan Ogden:1923) hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

                       

Jika dalam segitiga semantik referent adalah acuan atau objek yang terindra dan nyata, ini hampir sama dengan referensi. Referensi adalah bentuk penunjukan dalam kegiatan berbahasa yang nyata, yang bersifat tertentu dan bergantung pada paa konteks.  Lyons (Subroto, 2002:114) menyatakan bahwa “ ....is variable and utterance dependent”. Lyons menyatakan bahwa refensi itu bervariasi (bergantung pada situasi pemakaiannya) dan bergantung pada wujud tuturannya. Jika denotasi itu merujuk pada pandangan umumum sesuatu yang rujuk, sedangkan refensi itu bersifat khusus dan lebih spesifik pada sesuatu yang dirujuk. Untuk memperjelas apa yang dimaksud denotasi atau designasi dan referensi berikut ini contoh dari denotasi dan referensi:
            Tas à denotasi atau designasi
            Tas baru itu à referensi
( tas baru itu milik andi)
Jadi pada contoh diatas ada kata ‘tas’ dimana itu merujuk pada benda yang umum yng belum spesifik atau khusus. Jadi seseorang belom tahu yang dimaksud ‘tas’ tersbut apakah ‘tas yang lama’, ‘tas ransel’ atau ‘tas baru’. Sedangkan pada kata ‘tas baru itu’ sudah jelas objek yang dituju yaitu sebuah tas yang baru dibeli dan kata itu merujuk pada tas baru yang dimiliki oleh andi.
Terdapat saling ketergantungan antarmakna dan denotasi, yang jelas konsep makna itu berkaitan itu berkaiatan dengan relasi yang bersifat antar leksikal dan intra lingual serta bergantung pada sistem bahasa yang bersangkutan.
C.    PROPOSISI
Penggunaan logika berpikir dalam menafsirkan tuturan ternyata juga digunakan dalam linguistik, khususnya semantik. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan proposisi. Menurut Subroto (2011:27) proposisi adalah konfigurasi (susunan) pikiran yang terdiri dari pokok (sesuatu yang dibicarakan) dan sebutan (isi pembicaraan mengenai pokok). Proposisi lebih mengkaji awalan kata. Proposisi bisa berupa atom (kalimat sederhana), kalimat kompleks, dan komposisi kalimat. Misalnya “Suaranya merdu”. Kalimat tersebut terdiri dari kata pokok yakni “suaranya” dan kata sebutan “merdu”. Proposisi dapat dikonfirmasikan, dapat dibantah (Suaranya tidak merdu) atau dipertanyakan (merdukah suaranya). Proposisi juga dinyatakan dalam kalimat atau dinyatakan pada bagian kalimat.

Proposisi mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat dipahami melalui konteks. Makna proposisi dapat diterapkan ke dalam sesuatu yang pasti, tidak mungkin dapat diubah lagi, misalnya, di dalam bahasa kita kenal proposisi:

a. Satu tahun sama dengan dua belas bulan.
b. Matahari terbit di ufuk timur.
c. Satu hari sama dengan dua belas jam.
d. Makhluk hidup akan mati.
e. Surga adalah tempat yang sangat baik

Sebuah proposisi yang sama dapat diwujudkan dalam kalimat yang berbeda-beda. Misalnya, proposisi yang terkandung dalam kalimat “anak itu tercantik di desanya”, dapat diwujudkan dalam kalimat ”anak itu paling cantik di desanya”, atau dalam “anak itu menjadi bunga desa”, dan sebagainya.

Jadi dalam suatu paragraf terdapat rangkaian proposisi yang berhubungan satu dengan lainnya. Proposisi juga dapat dinyatakan dalam sebuah kalimat atau bagian kalimat dan diwujudkan dalam satuan ujaran/tuturan. Proposisi bisa disebut dengan aksioma bahasa.
            Pengertian proposisi juga dingkapkan oleh Aminudin (2012:51), proposisi adalah isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan statmen. Sedangkan Lyons lebih cenderung mengartikan proposisi sebagai perwujudan ekspresi dalam bentuk kalimat yang bisa bvenar atau salah (Lyons, 1979:38). Lebih mudahnya bila proposisi diartikan sebagai pernyataan dasar yang masih berada dalam abstraksi pikiran penutur. Untuk memahami istilah proporsi yang dikemukan oleh aminudin, berikut contohnya:
 “saya lapar” (yang ada dalam pikiran seseorang) à contoh proporsi
Tadi pagi saya belum sarapan (terucap) à Perwujudan kalimat dar"i “saya lapar”
Contoh diatas menjelaskan bahwa tatanan “saya lapar” yang masih adalam pikiran manusia adalh contoh proposisi, sedangkan perwujudannya dalam kalimat misalnya “tadi pagi saya belum sarapan” kata tersebut untuk merujuk pada pikiran “saya lapar”.



DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2011. Semantik (Pengantar Studi Tentang Makna). Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar  Semantik  Bahasa  Indonesia. Jakarta:  Rineka Cipta.
Subroto, Edi.2002. Ihwal Relasi Makna: Beberapa Kasus dalam Bahasa Indonesia dalam Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta:Yayasan Obor dan Pusat Bahasa.
Subroto, Edi. 2011. Pengatar Studi Semantik dan Pragmatik.  Surakarta: Cakrawala Media.

antropolinguistik analisis teks sabda tama catur wedha



MENGARUNGI BAHTERA RUMAH TANGGA BERLANDASKAN WEJANGAN LUHUR ‘SABDA TAMA CATUR WEHDA’
(Analisis Verba- Non Verba Pembacaan Sabda Tama Catur Wedha dalam Acara Midodareni Adat Jawa di Daerah Surabaya Utara)
Artikel Ilmiah

Memenuhi tugas individu matakuliah Antropolinguistik
yang dibina Bapak Wahyu Widodo S.S M. Hum.


Oleh :

Yulina Dwi Lestari                             (125110700111045)






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014

1.      Pendahuluan
Pernikahan adat jawa merupakan suatu rangkaian acara dalam pernikahan sebelum seorang mempelai laki-laki dan mempelai perempuan sah menjadi suami istri, rangkaian acara pernikahan adat jawa sangat bermacam-macam. Serangkaia acara pernikahan adat jawa tersebut seperti upacara pasang tarub atau pemasangan bleketepe, upacara siraman,  upacara midadaren, temu kemanten, tebusan kembar mayang, upacara bubak kawah, akad nikah, dan resepsi. Begitu rumitya acara-acara akad  nikah dalam adat jawa ini namun banyak nilai-nilai budaya yang bisa dikaji melalui ungkapan-ungkapan verba maupun non verbal dalam serangkaian acara tersebut.
Penelitian Ini akan lebih tertuju pada Acara Midodaren .Urut-urutan dari acara malam midodareni sendiri adalah  pertama dimulai dengan acara Jonggolan / Nyantri. Kedua adalah  acar tantingan. Keempat pembacaan Sabda Tama Catur Wedha. Setelah acara Pembacaan Catur Wedha selesai maka kemudian  acara midodareni pun ditutup dengan acara Wilujengan Majemukan yaitu acara bertemunya kedua orang tua calon pengantin yang bermakna kerelaan keduanya untuk saling berbesanan. Penelitian menggunakan malam midodaren karena dianggap acar midodaren adalah serangkaian acara adat pernikahan jawa yang sudah jarang dilaksanakan dari pada siraman, temu kemanten dan pemasangan bleketepe. Selain itu menurut Bapak Drs. Sidik Wiyoko M.M salah satu informan mengatakan bahwa acar midodaren sangat langka di era global ini, karena dinilai terlalu membuang biaya da memakan waktu, namun dibalik semua itu pastilah ada nilai teretntu dalan setiap rangkaian acara begitu pula dengan malam midodaren.
Dalam malam widodaren terdapat beberapa tahap acara, sehingga bila kita mengkaji secara keseluruha pastilah tidak akan menukik isi analisisnya maupun makana yang kita temuka dari hasil analisis tersebut maka dari itu peneliti  mengkaji salah satu rangkaian acara Midodaren yaitu pembacaan Sabda Tama Catur Wedha. Pembacaan Sabda Tama Catur Wedha ini sangat menarik dikaji baik dari sefi makan maupun penggunaan bahasa. Banyak varian bahasa yang digunakan dalam teks sabda tama catur wedha di setiap daerah, namun inti dan makna dalam catur wedha tersebut pastilah tetap sama. Inti makan inilah yang akan kita cari dengan menganalisis baik dari segi bahasa atau verba yang digunakan dan juga tindakan non verba saat malam widodaren tersebut.
Inti atau isi utama dalam sabda tama catur wedha ini dapat dikatakan sebagai bekal untuk memepelai laki-laki yang dismpaikan oleh calon mertuanya untuk nantinya dia mengarungi bahtera rumah tangganya dengan baik dan benar. Maka dari itu peneliti memberi judul penelitian ini ‘Mengarungi Bahtera Rumah Tangga Berlandaskan Wejangan Luhur Sabda Tama Catur Wehda’. Pembacaan sabda tama atau yag berarti nasehat uta catur wedha ini masih jarang orang awam yang mengetahuinya, maka dari itu dari penelitian ini peneliti dapat menggugah kembali ketertarika masyarkat jawa atas tradisi malam widodaren khusunya pembacaan sabda tama catur weda itu sendiri.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  yang telah dipapaparkan sebelumnya tentang objek kajian yaitu pembacaan Sabda Tama Catur Wedha dalam Acara Midodareni maka dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagi berikut:
1)      Apakah makna inti  dari pembacaan Sabda Tama Catur Wedha bila dikaji berdasarkan unsur kebahasaannya?
2)      Bagaimana hubungan dan maksud dari acara midodareni dan pembacaab Sabda Tama Catur Wedha bila dikaji dari segi unsur non verbalnya atau kegiatan yang dilakukan oleh calon memepelai maupun keluarga memepelai?
3.      Deskripsi Objek Kajian
Menurut pernikahan adat jawa, Midodareni adalah sebuah prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah. Midodareni sendiri berasal dari kata widodari yang dalam bahasa Jawa bermakna bidadari. Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat jawa sendiri kenapa diadakannya acara prosesi Midodareni adalah karena konon pada malam itu para bidadari dari khayangan turun ke bumi dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita guna ikut mempercantik dan menyempurnakan calon pengantin wanita.
Urut-urutan dari acara malam midodareni sendiri adalah  pertama dimulai dengan acara Jonggolan / Nyantri yaitu  sowannya calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita untuk beremu dengan orang tua dari calon mempelai wanita yang kelak akan menjadi mertuanya. Jonggolan sendiri berasal dari kata njonggol yang berarti menampakan diri. Kedua adalah  acar tantingan. Keempat pembacaan Sabda Tama Catur Wedha. Setelah acara Pembacaan Catur Wedha selesai maka kemudian  acara midodareni pun ditutup dengan acara Wilujengan Majemukan yaitu acara bertemunya kedua orang tua calon pengantin yang bermakna kerelaan keduanya untuk saling berbesanan. Dan barulah kemudian menjelang kepulangan calon mempelai pria beserta keluarganya sang ibu dari calon mempelai wanita ini menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang kepada keluarga calon mempelai pria.
Sabda Tama Catur Wedha bila diterjemakan berdasarkan katanya maka dapat diketahui bahwa Sabda Tama Catur Wedha adala Nasihat Utama yang berisi empat ilmu. Catur (empat) dan Wedha (ilmu) bisa diterjemahkan dengan empat ilmu atau empat pitutur. Secara khusus “Catur Wedha” adalah empat nasihat utama dari calon bapak mertua kepada calon menantu laki-lakinya pada malam midadareni (nyantrik/nyantri), disaksikan tamu yang hadir pada malam itu.  Catur Wedha dibacakan menjelang sang calon mantu kembali ke tempat podokannya, sebelum acara penyerahan kancing gelung (pakaian yang akan dikenakan waktu ijab kabul esok harinya).
Ada banyak versi Catur Wedha, tetapi muatannya tetap sama. Yang beda hanya penggunaan bahasa Jawanya. Semakain berkembangnya jaman teks Sabda Tama Catur Wedha ini biasanya diketik dan dibingkai dengan pigora. Teks catur wedha lumrahnya disampaikan dengan Bahasa Jawa, namun karena seiring zaman dimana bisanya ada salah satu mempelai yang bukan berasal dari jawa maka teks catur wedha dibacakan dengan dua versi yaitu bahasa jawa dan bahasa nasional indonesia. umumnya bahasa Jawa disampaikan oleh ayah mempelai waita, dan teks indonesia disampaikan oleh ibu memepelai wanita. Pembacaan teks catur wdha ini tidak dapat diwakilkan, karena isinya yang sangat sakral layaknya pemberian wejagan dari orang tua kepada calon anak nya ( calon menantunya)

4.      Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah video rekaman prosesi malam midodareni yang dilaksanakan pada tgl 4 mei 2012, oleh keluarga Drs. Didik Suminto di kedinding tengah jaya, Surabaya Utara. Selain video rekaman prosesi malam midodareni, data pendukung juga diambil dari beberapa nara sumber yaitu Bapak Drs.Sidik Wiyono M.M dari sanggar makuto mangesti di Surabaya, beliau merupakan MC khusus adat jawa sehingga beliau paham betul seluk beluk rangkaian acara dalam pernikahan adat jawa. Selain itu sumber data pada penelitian ini juga diambil dari buku ‘Pedoman Penyelengaraan Upacara Pernikahan Adat Jawa Lengkap (Surakarta Hadiningrat)’ yang diberikan oleh Bapak Bambang Irawan SH.MH baliau merupakan Pelatih MC manten jawa di sanggar Makuto Mangesti.
Berikut ini data ‘Teks Naskah Sabda Tama Catur Wedha’ yang peneliti temukan, selain teks atau ungakapan verbal saat proses pembacaan catur wedha di malam widodaren, peneliti jua menemukan beberapa data unik berupa data non verba atau segala sikap dan perilaku yang dijalankan baik oleh calon memepelai maupun oleh keluarga memepelai saat malam widodaren tersebut.
Bismillahirohmanirrahim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Anak emas ....... kang kinansigh kanggo sangumu urip ing madyaning bebrayan perlu ingsun paringi sangu pitututr luhur kang lumrah diarani sabda tama cutur wedha lirih mengkene
1.      Rehne sliramu bakal ngemong anak-ku, sakabehing tandang-tandukmu kudu wus dhewasa, aja kaya nalikane isi jaka. Semono uga bakal sisihanmu anak ajeng............. kudu ngerteni yen wus ana kang ngemong, mula sakabehing tumindak tansah netepana wanodya kang ora lamban.

2.      Tansah bektio marang won tuwo, jalaran kang wus ngukir jiwa-ragamu uga kang dadi lantaraning tetuwuh ing bebrayan

3.      Urip ing bebrayan agung wajibe netepi anger-anggering praja miwah tresna asih mring sapadha-padha, suprih gangsar ing samubarang pambudidaya.

4.      Mituhu-a dhawuhing pangeran kang maha asih, lan budi dayanen kanthi becik aja nganti nerak paugeraning kautamen. Agama kang sira anut lakonana kanthi ajeg insyaAllah sliramu bakal bisa dadi sanggar waringining kluwarga migunani tumrap nusa bangso lan agomo.

Wassalamu’alaikum warahmatullani wabarokatuh

                                                                                                     Kota, Tanggal

                                                                                             (TANDA TANGAN)
                                                                          Nama Calon Mertua Laki-laki

untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis maka teks naskah sabda tama tersebut akan dipotong menjadi beberapa bagian yaitu pembuka, isi dan penutup lalu akan diberi kode sebagai berikut :


 Teks Sabda Tama Catur Wedha
 Kode
Bismillahirohmanirrahim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

STCW salam
Anak emas ....... kang kinansigh kanggo sangumu urip ing madyaning bebrayan perlu ingsun paringi sangu pitututr luhur kang lumrah diarani sabda tama cutur wedha lirih mengkene

STCW Pem
1.              Rehne sliramu bakal ngemong anak-ku, sakabehing tandang-tandukmu kudu wus dhewasa, aja kaya nalikane isi jaka. Semono uga bakal sisihanmu anak ajeng............. kudu ngerteni yen wus ana kang ngemong, mula sakabehing tumindak tansah netepana wanodya kang ora lamban.

STCW I1
2.              Tansah bektio marang won tuwo, jalaran kang wus ngukir jiwa-ragamu uga kang dadi lantaraning tetuwuh ing bebrayan

STCW I2
3.           Urip ing bebrayan agung wajibe netepi anger-anggering praja miwah tresna asih mring sapadha-padha, suprih gangsar ing samubarang pambudidaya.

STCW I3
4.              Mituhu-a dhawuhing pangeran kang maha asih, lan budi dayanen kanthi becik aja nganti nerak paugeraning kautamen. Agama kang sira anut lakonana kanthi ajeg insyaAllah sliramu bakal bisa dadi sanggar waringining kluwarga migunani tumrap nusa bangso lan agomo.

STCW I4
Amin, ya Rabbil allamin.
Wassalamu’alaikumwarahmatullani wabarokatuh

STCW Salam

Selain teks sabda tama yang merupakan ungkapan verbal dalam acara midodareni terdapat beberapa ungkapan non verbal yang akan dikaji makna dan maksudnya berikut ini beberapa sikapa atau ungkapan non verbal dalam acara malam midodareni

1)      Sikap Mempelai Laki-Laki
Sikap mempelai laki-laki saat pembacaan catur wedha adalah berdiri dan berhadapan dengan kedua calon mertua, dengan posisi kepala menunduk.
Selain itu mempelai laki-laki dilarang makan saat acara midodareni berlangsung, mempelai laki-laki hanya diperbolehkan minun dan minuman itu sendiri harus seijin tuan rumah (mertua) selain itu mempelai laik-laki saat minum tidak boleh tumpah ataupun dihabiskan secara langsung .

2)      Sikap Calon Mempelai Wanita
Mempelai wanita tidak ada ditengah-tengah acara, namun mempelai wanita disembunyikan pada suatu ruangan atau kamar dengan memakai baju kebaya dan dandan, memepelai wanita hendaknya duduk dan mendengarkan pembacaan catur wedha dari dalam kamar
3)      Sikap Calon Mertua
Saat membacakan sabda tama catur wedha kedua calon mertua ( ibu dan bapak calon mempelai wanita) berdiri berhadapan dengan calon menantu ( mempelai laki-laki) dengan posisi berdampingan ayah sebelah kanan dan ibu dikiri.